Minggu, 04 Juli 2010

PENGUMUMAN


Nilai akhir Ujian DASKOM semester Genap 2009/2010 adalah sebagai berikut:





Pengasuh

Senin, 28 Juni 2010

PENGUMUMAN

Yang telah membuat blog (praktikum) Daskom sampai tanggal 29 Juni 2010:
1. Okta Adi Saputra
2. Aodry Fbrian Putra

Yang lain harap segera menyerahkan laporannya sebelum ujian (1-7-2010).


Pengasuh

Selasa, 22 Juni 2010

PENGUMUMAN

DIBERITAHUKAN KEPADA PESERTA KULIAH DASKOM 2009/2010 SEMESTER GENAP:
1. Semua peserta harus membuat Blog (sebagai Laporan Praktikum)
2. Membuat makalah yang dimasukkan ke Blog tersebut.
3. Makalah harus berisi: Judul, pendahuluan/masalah, isi (pembahasan), kesimpulan dan Pustaka. Isi yang hanya infomasi dan tidak disertai data akan mendapatkan nilai minimal.
4. Blog yang sudah dibuat harap diinformasikan ke: m_nur_ihsan@yahoo.com atau ihsan.mohnur@gmail.gom
5. Semua tugas harus selesai satu hari sebelum ujian Daskom.
6. Harap diperhatikan.


Pengasuh

Minggu, 17 Januari 2010

PENGUMUMAN


Hasil akhir ujian Daskom Semester Ganjil 2009/2010 adalah sbb:

Minggu, 03 Januari 2010

Kaya dengan sepasang kambing

Oleh:Moh.Nur Ihsan

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa ada seorang sahabat menghadap Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam, bernama Tsa'labah dan minta didoa'kan supaya bisa menjadi orang yang kaya harta. Tetapi Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam menjawab, "Tsa'labah, teruskan ikhtiarmu dan bersyukurlah di dalam nasibmu yang sekarang ini, dan itu adalah yang terbaik bagimu."

Tsa'labah tetap bersikeras untuk minta didoa'kan supaya menjadi orang yang kaya raya. Akhirnya, singkat cerita Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam memberinya modal sepasang kambing sembari dido'akan oleh beliau dengan sungguh-sungguh.

Dalam tempo yang sangat singkat, usaha Tsa'labah langsung menampakkan hasilnya dan kambing yang awalnya hanya sepasang terus berkembang biak hingga menjadi ratusan ekor, ditambah kebun kurma dan ladang anggurnya juga menjadi puluhan hektar. Namnun apa yang terjadi karena terlalu sibuk dengan urusan kambing dan ladangnya, maka Tsa'labah dan istrinya yang semula rajin pergi jamaah sholat ke Masjid menjadi tak sempat lagi untuk shalat berjamaah dengan Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam di masjid seperti yang biasanya dilakukan ketika mereka masih hidup dalam kesusahan, bahkan makin hari maka semakin kaya pula mereka, sehingga untuk shalat di rumah pun sudah mulai ditinggalkan dengan alasan sibuk mengurus harta bendanya itu.

Kemudian turunlah perintah untuk mengeluarkan zakat, dan Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam mengirimkan utusan kepada Tsa'labah untuk diminta membayar zakat. Tetapi dengan angkuh dia menjawab, "Aku jadi kaya begini bukan hadiah dari orang lain. Ini semata-mata hasil jerih payahku sendiri, hasil lelah penatku sendiri. Orang miskin kalau hendak makan, suruh mereka untuk kerja sendiri."

Hingga sampai tiga kali Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam mengirimkan utusan yang mendatangi Tsa'labah untuk menagih zakatnya, namun Tsa'labah tetap saja menolak. Dia tidak ingat bahwa semuanya itu berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala, bahwa Allah Ta'aala kuasa memberi dan kuasa pula untuk mengambil. "La maani'a limaa a'thaita wala mu'thiya lima mana'ta: Tak ada yang sanggup menghalangi atas apa yang Kau beri, dan tak ada yang boleh memberi atas apa yang Kau tolak."

Kemudian datanglah janji tersebut, ancaman Allah 'Azza wa Jalla terhadap setiap pembangkang,dan secara tiba-tiba tersebarlah wabah penyakit sehingga kambing Tsa'labah banyak yang mati, tanamannya pun banyak yang kering. Tsa'labah segera mendatangi Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam untuk membayar zakat, tetapi wahyu sudah turun untuk tidak menerima apapun dari Tsa'labah, maka Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam menolak zakat dari Tsa'labah. Lalu cepat-cepat Tsa'labah mendatangi para sahabat-sahabat Nabi, tetapi mereka juga tidak hendak menerima zakat darinya lagi. Sehingga pada akhir ujung usianya, Tsa'labah beserta istrinya tersiksa oleh kekayaannya sendiri. Akibat kufur kepada nikmat yang dititipi Allah Ta'aala.

Oleh karena itu Allah Rabbul'aalamiin memperingatkan dalam firman-Nya di surat an-Naml (27) ayat 40: ucapan dari Nabi Sulaiman 'Alahis Salaam, "Hadzaa min fadhli Rabbii li yabluwanii a asykuru am akfuru." Diterjemahkan, "Ini adalah karunia dari Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur (ingkar ) nikmat."

Sebab kufur kepada nikmat dan karunia yang Allah titipkan akan dapat menyeret seorang manusia kepada kehilangan pegangan, yaitu agama. Sehingga agama nantinya tidak ada jiwanya melainkan hanya sekedar formalitas saja, diajarkan tetapi tidak diamalkan.

Bahkan dalam sebua hadits, Nabi Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'Alahi wa Sallam bersabda, "Halaaku ummatii lihubbid dun-yaa wa karaahiyyatil mauti." Diartikan sebagai, "Hancurnya umatku karena terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut (benci) kepada kematian."

Kenapa cepat kaya
Ternak kambing yang merupakan modal awal yang diberikan Nabi Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'Alahi wa Sallam, merupakan ternak yang tepat. Hal karena ternak kambing memiliki beberapa kelebihan dan potensi ekonomi antara lain : tubuhnya relatif kecil, cepat mencapai dewasa kelamin, pemeliharaannya relatif mudah, tidak membutuhkan lahan yang luas, investasi modal usaha relatif kecil, mudah dipasarkan sehingga modal usaha cepat berputar. Selain itu juga memiliki kelebihan lain yaitu : reproduksinya efisien dan prolifik, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan, tahan terhadap panas dan beberapa penyakit serta prospek pemasaran yang baik, hanya memerlukan kandang dan pakan yang sederhana (rumput-tumputan dan dedaunan. Prolifik adalah ternak yang mampu melahirkan anak lebih dari satu, dengan masa bunting pendek yaitu hanya sekitar 5 bulan. Dengan sifat-sifat yang dimiliki tersebut maka seekor kambing akan mampu beranak 3 kali selama dua tahun yang masing beranak 2 ekor.
Selama dua tahun tersebut dengan seekor induk akan diperoleh tambahan kambing sekitar 6 ekor anak, sedangkan anak pertama kemungkinan sudah beranak pertama satu ekor,untuk tahun pertama. Dengan demikian selama dua tahun kambing akan tambah dari sepasang (dua ekor) menjadi 9 ekor. Untuk dua tahun kedua akan diperoleh anak sekitar 14 ekor anak dengan dua induk. Demikian seterusnya akan jumlah kambing tambah terus. Dengan cepatnya berkembang biak tersebut sering-sering ternak kambing digunakan sebagai modal awal dan dipilih untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat, khususnya daerah miskin dan kurang modal. Dengan demikian wajarlah nika seorang Tsa'labah dipilihkan oleh Rasulullah seekor kambing untuk mewujudkan cita-cita seorang yang kaya raya.

Rabu, 19 Agustus 2009

SELAMAT DATANG RAMADHAN

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Sebentar lagi kita kan memasuki bulan Ramadan
“Ahlan wa sahlan ya Ramadan! Selamat datang wahai bulan Ramadan! Bulan penuh berkah!”

Marhaban ya Ramadhan,

Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim,
Marhaban Ya Ramadhan
Allaahumma baariklanaa fi Sya’ban wa ballighnaa Ramadhan
Amin.

Selamat menjalankan Ibadah Shaum Ramadhan 1430 H
SEMOGA KITA DAPAT MENJALANKAN IBADAH SHAUM DENGAN OPTIMAL DAN MENCAPAI DERAJAT TAQWA YANG SESUNGGUHNYA, AMIN.
Sucikan hati tuk menyambut bulan suci, mohon maaf atas segala kesalahan.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Makan dan Minum

Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki masjid). Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf:31)
Ibnu Abbas berkata,”Di dalam ayat ini Allah telah menghalalkan makan dan minum selama tidak berlebihan dan sombong.”.
Sedang makan sesuai kebutuhan, yaitu untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga adalah suatu hal yang menurut syariat memang dianjurkan. Sebab, yang demikian itu sebagai bentuk pemeliharaan diri dan indra.
Oleh karena itu syariat melarang seseorang berpuasa wishal (puasa yang tidak pernah buka selama berhari-hari). Sebab, hal itu bisa melemahkan tubuh, mematikan jiwa, melemahkan keinginan beribadah.
Orang yang menolak memebri dirinya sesuai dengan apa yang ditubuhkan tidak termasuk orang baik dan zuhud. Dan mengenai ukuran yang melebihi kebutuhan, maka di antara ulama ada yang mengatakan, “Yang demikian itu adalah haram”, sebagian lainnya mengatakan makruh.
Tidak makan berlebihan dan sesuai kebutuhan memiliki banyak manfaat: Diantaranya membuat tubuh lebih sehat, lebih baik, bermulut lebih bersih, tidak banyak tidur, dan lebih ringan bergerak.
Sementara banyak makan bisa menyebabkan lambung terisi penuh, salah cerna, dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit yang membutuhkan pengobatan lebih banyak daripada mereka yang tidak banyak makan.
Orang bijak pernah berkata, “Sebaik-baik obat adalah mengatur pola makan”. Nabi saw bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Jika terpaksa dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga lagi untuk bernafas (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
Para ulama berkata, “Jika saja ada Apikort mendengar ungkapan ini, maka dia benar-benar akan takjub dengan hikmah ini”. (Apikort adalah bapak kedokteran, dia telah menulis lebih dari 60 judul buku tentang kedokteran).
Konon Ar-Rasyid memiliki seorang dokter nasrani yang cukup pandai. Dia pernah berkata kepada Ali bin Husain, “Di dalam kitab kalian tidak terdapat ilmu kedokteran. Ilmu itu ada 2, ilmu agama dan ilmu tubuh”.
Ali pun berkata kepadanya “Allah telah menghimpun ilmu kedokteran hanya dalam ½ ayat dari kitab kami”.
Ia berkata, “Apakah itu?” Ali menjawab: “Allah berfirman, ‘Makan dan minumlah kalian, tapi jangan berlebih-lebihan’”
Kemudian orang nasrani itu berkata, “Rasul kalian pun tidak meninggalkan sedikit pun ilmu kedokteran?”.
Ali menjawab, “Rasulullah saw telah menghimpun ilmu kedokteran dalam ungkapan sederhana, ‘Lambung adalah gudang penyakit, dan diet adalah sumber obat. Berikanlah untuk setiap anggota tubuh sesuai dengan kebiasaannya.”
Orang nasrani itu berkata, “Kitab dan Nabi kalian tidak memberi peninggalan kepada Jalinus” (Jalinus adalah bapak Farmasi. Dia telah mendalami ilmu kedokteran dan telah merantau ke banyak negara, diantaranya Iskandaria. Dia telah menulis banyak buku baik tentang kedokteran maupun lainnya. Dia cukup terkenal sebagai ahli bedah”.
Perlu saya katakan, mengobati orang sakit dapat dilakukan dengan dua paruh: separuh obat dan separuh lainnya adalah pantangan atau diet. Jika keduanya berkumpul jadi satu, seakan orang yang sakit, telah sembuh dan sehat. Jika tidak, maka menahan diri tidak banyak makan adalah lebih baik baginya. Karena, obat tidak akan bermanfaat tanpa pantangan. Sebaliknya pantangan akan lebih bermanfaat meski tanpa mengonsumsi obat.
Rasulullah pernah bersabda, “Sumber asal setiap obat adalah pantangan (diet)” Ini berarti –wallahu ‘alam- bahwa dengan pantangan, obat tidak terlalu dibutuhkan. Oleh karena itu, sebagian besar pengobatan yang dilakukan orang-orang India adalah “berpantang”. Dimana orang sakit dilarang minum, makan, dan berbicara selama beberapa hari, sehingga dia sembuh dan sehat.
Allah Swt. Berfirman “Dan janganlah kalian berlebihan”. Maksudnya berlebihan dalam makan dan minum. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, dia berkata, “Aku pernah makan tsarid dengan daging yang penuh lemak, lalu aku datang kepada Nabi, sedang aku benar kekenyangan. Maka Nabi berkata, “Hentikan mengisi perutmu wahai Abu Juhaifah, karena sesungguhnya orang yang paling kenyang di dunia, akan menjadi orang yang paling lama merasa lapar di akhirat”.
Setelah kejadian itu Abu Juhaifah tidak pernah mengisi perutnya sampai penuh hingga ajal menjemputnya. Jika dia sudah makan siang, maka dia tidak lagi makan malam. Nabi saw telah menjelaskan tentang batasan berlebihan melalui sabda beliau: “Termasuk berlebihan adalah ketika kamu memakan apa saja yang menggugah selera”.
Luqman pernah berpesan kepada anaknya “Wahai anakku, janganlah kalian makan terlalu kenyang. Jika engkau memberikan makanan itu untuk anjing, maka yang demikian itu lebih baik daripada engkau terus memakannya”.
Sumber: Buku "Pola Makan Rasulullah" oleh Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid